Sanad dan pengajar
Bacaan diperiksa langsung dari mulut ke mulut. Sanad diberikan hanya kepada yang memenuhi standar kelayakan.
Mengapa Sanad
Al-Qur'an tidak sampai kepada kita sekadar melalui tulisan, melainkan juga melalui lisan — dari Allah Ta'ala kepada Jibril 'alaihissalam, kepada Rasulullah ﷺ, kepada para sahabat, dan seterusnya dari mulut ke mulut hingga hari ini.
Sanad adalah mata rantai penerimaan itu. Ia memastikan bahwa bacaan yang dipelajari benar-benar tersambung kepada Rasulullah ﷺ — bukan hasil membaca sendiri dari mushaf, betapapun fasihnya.
Karena itulah Ma'had Salim menempatkan talaqqi dan musyafahah sebagai inti pembelajaran: santriwati membaca langsung di hadapan ustadzah, dan ustadzah mendengar serta mengoreksi dengan mata dan telinganya sendiri.
Sistem sanad
Sanad Al-Qur'an di Ma'had Salim Batanghari diberikan melalui riwayat Hafsh 'an 'Ashim thariq Asy-Syathibiyyah.
Sanad dipegang di dalam ma'had sendiri oleh Ustadzah Nabilah, sebagai Penanggung Jawab Tahfizh dan Ustadzah Utama Ma'had Salim Batanghari. Santriwati membaca langsung di hadapan beliau secara talaqqi dan musyafahah, bukan menyerahkan rekaman, bukan pula secara daring.
Kelulusan ma'had adalah keputusan lembaga, sedangkan pemberian ijazah adalah hak dan tanggung jawab guru pemegang sanad — beliau berwenang menunda, meminta pengulangan, atau menolak apabila bacaan belum memenuhi syarat.
Sanad bukan hadiah kelulusan. Hanya santriwati yang hafalan dan bacaannya memenuhi standar kelayakan tahfizh dan tahsin ma'had yang diajukan untuk menerimanya.
Syarat pengajuan sanad
- Memenuhi standar tahfizh ma'had.
- Memenuhi standar tahsin: bacaan bersih sesuai kaidah tajwid.
- Lulus ujian bacaan di hadapan pengajar bersanad.
Ustadzah Nabilah binti Didik Jamin
Penanggung Jawab Tahfizh dan Ustadzah Utama Ma'had Salim Batanghari.
Kepada beliaulah santriwati membaca, dan dari beliau pula sanad Al-Qur'an Ma'had Salim diberikan.
Ustadzah Nabilah tinggal bersebelahan dengan asrama santriwati. Pilihan ini disengaja: pembelajaran Al-Qur'an secara talaqqi menuntut kehadiran yang dekat dan berkelanjutan, bukan pertemuan yang terjadwal sesekali.
Beliau adalah istri dari pimpinan ma'had, Ustadz Salman Tenri Handriadi (Abu Hana, Lc.). Hal ini kami sampaikan terbuka, sekaligus dengan ketentuan yang menyertainya: kewenangan kelembagaan dan kewenangan pemberian sanad dipisahkan.
Riwayat resmi ma'had
Hafsh 'an 'Ashim, thariq Asy-Syathibiyyah — riwayat yang paling luas dipakai kaum muslimin di seluruh dunia, dan yang dimiliki Ustadzah Nabilah melalui dua jalur guru yang terpisah.
Ijazah dan sanad yang dimiliki
| Riwayat | Pemberi ijazah |
|---|---|
| Hafsh dan Syu'bah 'an 'Ashim — thariq Asy-Syathibiyyah | Syaikhah Ahlam Naji Hizam Al-Quh |
| Hafsh 'an 'Ashim — thariq Asy-Syathibiyyah | Syaikh Dr. Shalih Musa Jibu Muhammad |
| Hafsh dan Syu'bah 'an 'Ashim — thariq Asy-Syathibiyyah, serta Hafsh thariq Al-Mishbah dari Thayyibatin-Nasyr | Syaikhah Muna binti Husain Al-'Abbadi Al-Iskandariyah |
| Hisyam dan Ibnu Dzakwan 'an Ibni 'Amir — thariq Asy-Syathibiyyah | Syaikhah Muna binti Husain Al-'Abbadi Al-Iskandariyah |
Pembelajaran di Ma'had Salim difokuskan pada riwayat Hafsh 'an 'Ashim thariq Asy-Syathibiyyah. Pembukaan riwayat lain memerlukan keputusan resmi tersendiri.
Silsilah sanad
Jalur melalui Syaikhah Ahlam Naji Hizam Al-Quh, riwayat Hafsh dan Syu'bah 'an 'Ashim thariq Asy-Syathibiyyah. Dibaca berurutan dari Ustadzah Nabilah ke atas.
Ustadzah Nabilah binti Didik Jamin
Syaikhah Ahlam Naji Hizam Al-Quh
Syaikhah Dr. Rihab Muhammad Mufid
Syaikh Dr. Ayman Rusydi Suwaid — muqri' negeri Syam
Syaikh Muhyiddin bin Hasan Al-Kurdi Ad-Dimasyqi
Syaikh Muhammad bin Thaha Sakkar Ad-Dimasyqi
Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad Ali 'Uyun As-Sud — Syaikhul Qurra' Kota Homs
Syaikh Ahmad Abdul Aziz Az-Zayyat Al-Mishri dan Syaikh Ibrahim Ali Syahatah As-Samannudi
Seterusnya sanad bersambung melalui para imam qira'at yang masyhur — Ibnul Jazari, Imam Asy-Syathibi, Imam Ad-Dani, Hafsh bin Sulaiman, dan Imam 'Ashim bin Abi An-Najud — kepada para sahabat Nabi: Utsman bin 'Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas'ud, Ubay bin Ka'ab, dan Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhum, dari Rasulullah ﷺ, dari Jibril 'alaihissalam, dari Allah Ta'ala.
Tenaga pengajar dan pengasuh
Seluruh pengasuh santriwati adalah perempuan dan tinggal bersama santriwati di asrama.
- Penanggung Jawab Tahfizh (Ustadzah Nabilah) — memimpin dan mengawasi jalannya program tahfizh, sekaligus pemegang sanad ma'had. Tinggal bersebelahan dengan asrama santriwati.
- Tiga ustadzah — menerima setoran hafalan, membimbing tahsin, dan mengajar kitab diniyyah. Satu ustadzah membimbing 4–8 santriwati.
- Satu musyrifah — mendampingi keseharian santriwati di asrama.
Latar pengasuh
Empat dari kelima pendidik di atas — tiga ustadzah dan satu musyrifah — adalah alumni angkatan pertama Ma'had Salim Batanghari (2022). Mereka menempuh sendiri jenjang yang kini mereka ajarkan, sehingga memahami betul beban dan ritme belajar santriwati. Ustadzah Nabilah bersama Ustadz Salman merintis Ma'had ini sejak awal.
Kompetensi pengasuhan mereka dibina berkelanjutan, meliputi komunikasi, observasi, mentoring, dan penanganan masalah santriwati.
